
Play/Download
Suatu sore aku iseng kirim SMS ke ponsel Tante Rissa. Sekedar say hello
aja sih, soalnya udah lama juga aku nggak ketemu dia. Isinya singkat,
"SORE TANTE, PA KBR NICH?". Tanpa kuduga Tante Rissa langsung menelpon
balik.
"Halo..", sapaku.
"Hai.. bikin kaget aja, kirain siapa?" sahut Tante Rissa di seberang sana.
Terdengar ribut sekali, mungkin wanita itu sedang berada di tempat ramai.
"Hahaha.. kirain udah lupa sama aku Tante..", balasku.
"Nggak dong sayang, eh kamu lagi ngapain nih?" tanya Tante Rissa.
"Yah.. lagi nunggu waktu pulang aja Tante." jawabku.
"Abis itu mau kemana?" tanya Tante Rissa lagi.
"Ya pulang ke rumah..", jawabku.
Tante Rissa tidak langsung menjawab. Terdengar suara-suara ribut di
belakangnya dan terdengar suara Tante Rissa yang meladeni mereka.
"Kalo gitu jalan sama aku aja yuk..", ajak Tante Rissa.
"Ngg.. lain kali deh Tante, kan bukan weekend..", tolakku agak halus.
Aku tau betul kalau Tante Rissa ngajak jalan pasti ujung-ujungnya nginep. Entah di rumah, di villa atau di hotel.
"Aduh Yo.. sekali ini deh, kita lagi ada acara nih..", bujuk Tante Rissa.
Aku masih berusaha menolaknya secara halus. Tante Rissa bilang bahwa ada
salah seorang temannya yang ulang tahun, dan wanita itu ingin kenal
dengan aku. Singkat cerita dengan setengah terpaksa aku mengiyakan
ajakan Tante Rissa.
Pada saat Tante Rissa telepon sore tadi, ternyata dia dan beberapa
temannya sedang belanja di Plaza Senayan, dari situ mereka berencana ke
tempat karaoke di daerah Pluit. Tante Rissa memintaku menunggu di Atrium
Senen untuk kemudian wanita itu menjemputku dan langsung ke Pluit. Jam
tujuh kurang lima belas aku tiba di Atrium Senen. Aku segera mengontak
Tante Rissa. Wanita itu ternyata sedang dalam perjalanan dan sudah
sampai daerah Salemba. Kurang lebih lima belas menit kemudian ponselku
berbunyi dan Tante Rissa memintaku untuk menunggu di lobi agar dia tidak
perlu parkir.
Aku bergegas keluar menuju lobi, dan sampai di lobi aku melihat Tante
Rissa melambai ke arahku dari dalam Peugeot 207. Aku segera menghampiri
dan masuk ke belakang. Di dalam mobil ada dua wanita lain selain Tante
Rissa.
"Hai.. udah lama Yo?" tanya Tante Rissa.
"Lumayan Tante, dua hari..", kelakarku.
Ketiga wanita itu tertawa renyah.
"Dasar deh.. oya, kenalin ini teman-temenku, yang ini namanya Shinta dan
yang ini Lisbeth..", Tante Rissa mengenalkanku pada kedua wanita yang
masih asing denganku itu.
Di dalam perjalanan kedua wanita itu cepat akrab denganku. Rupanya Tante
Rissa sudah banyak cerita tentang aku. Dan mereka pun tak segan-segan
bercerita tentang kehidupannya. Tante Shinta yang duduk di sebelahku
berusia 35 tahun. Dari wajahnya terlihat kalau ada sedikit darah timur
tengah di tubuhnya. Dan ternyata betul, wanita ini memiliki darah
Pakistan. Kulitnya yang putih kemerahan saat itu terbalut baju terusan
tanpa lengan yang panjangnya sampai menutupi setengah pahanya yang
mulus. Buah dadanya tidak terlalu besar, namun pas dengan proporsi
tubuhnya yang langsing berisi. Rambut hitamnya yang dipotong pendek
memperlihatkan tengkuknya yang putih.
Tante Lisbeth yang berada di belakang kemudi adalah seorang wanita
keturunan Chinese seusia Tante Rissa. Wajahnya sangat oriental ditambah
kulitnya yang putih susu betul-betul memberi daya tarik sendiri di
usianya yang sudah tidak muda lagi. Rambut ikalnya yang dicat coklat
muda dibiarkan tergerai setali bra. Payudaranya yang mungkin berukuran
36 C tampak menonjol dengan tubuh rampingnya.
Butuh lebih dari setengah jam untuk sampai ke Pluit karena macet.
Setelah memarkir mobil Tante Lisbeth menelpon seseorang. Aku tidak tau
apa yang dibicarakan, tapi kelihatannya sekedar konfirmasi bahwa kami
sudah ada di tempat. Kemudian kami berempat langsung menuju tempat
karaoke yang dimaksud. Aku belum pernah ke tempat ini. Kadang memang aku
suka ke karaoke, namun tempat karaoke yang satu ini kayaknya lebih
privat. Begitu masuk lobi, Tante Rissa dkk langsung disambut dengan baik
oleh resepsionisnya. Kelihatannya Tante Rissa dkk sudah sering ke
tempat ini.
"Irene udah dateng belum?" tanya Tante Rissa pada resepsionis itu.
"Udah, katanya udah ditunggu dari tadi." jawab si resepsionis.
Kemudian kami berempat langsung menuju ruangan yang ditunjuk si resepsionis.
"Haaii.. happy birthday..".
Ketiga wanita tersebut berteriak-teriak ribut begitu memasuki ruangan
karaoke. Di dalam ada seorang wanita yang disebut-sebut Irene tadi.
Wanita itu tampak ceria sekali menyambut kedatangan teman-temannya.
Usianya mungkin sebaya Tante Rissa. Tubuhnya tinggi semampai dengan
kulit yang putih mulus. Wajahnya imut sekali untuk ukuran Ibu-Ibu
seusianya. Rambut coklatnya yang dipotong pendek sebahu disisir rapi ke
belakang. Baju terusan warna perak yang dikenakannya semakin membuat
wanita itu terlihat elegan.
"Rio, kenalin nih.. yang punya acara." seru Tante Rissa kepadaku.
Aku tersenyum menghampiri Tante Irene yang duduk di sofa. Wanita itu
tersenyum manis sekali. Aku menyalami tangannya yang halus dan lembut.
"Oo.. ini yang namanya Rio..", serunya.
Aku tersenyum.
"Iya, kan tadi katanya Tante pengen aku dateng..", aku sedikit menggodanya.
Tidak kusangka wajah Tante Irene bersemu merah. Ketiga temannya tertawa
menggoda wanita itu. Suasana pun tiba-tiba menjadi cair dan akrab
sekali. Tante Rissa, Tante Shinta dan Tante Lisbeth tak henti-hentinya
menggoda Tante Irene, seperti anak ABG yang main jodoh-jodohan.
Suasana tiba-tiba "dirusak" oleh pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka.
"Hai.. hai.. hai.. sori ya kelamaan tadi aku.. ups..", tiba-tiba masuk
seorang wanita yang juga sebaya mereka sambil menjinjing dua kardus
berukuran sedang, sambil berteriak-teriak.
Namun teriakannya berhenti begitu melihat ada aku. Mungkin dia pikir siapa orang asing ini.
"Makanya kalo masuk ketok dulu dong..", seru Tante Lisbeth sambil tertawa.
Wanita yang baru masuk itu masih tampak kebingungan.
"Ini lho Rio yang tadi kita bilang bakal ikutan party bareng kita. Kan
kamu sendiri yang bilang nggak seru kalo full ladies party", Tante Rissa
mencoba menjelaskan.
Wanita itu tiba-tiba tersenyum seraya menghampiriku, dan mengulurkan tangannya.
"Bilang dong dari tadi.. bikin aku kaget aja, kirain mata-matanya si
gendut..", keempat wanita itu terbahak-bahak mendengar jawaban si wanita
yang baru masuk.
Ternyata yang dimaksud si gendut adalah suaminya. Wanita itu menyalamiku
dengan ramah. Namanya Yola. Tante Yola satu-satunya yang berbeda di
antara wanita-wanita yang ada di situ. Tingginya sekitar 168 dengan
berat yang proporsional. Rambutnya hitam legam panjang terurai hampir
sepinggang dengan potongan lancip dan ngetrap. Yang paling membedakan
adalah warna kulitnya yang hitam seperti orang-orang Afrika. Dan
meskipun make up yang dikenakannya agak aneh menurutku (bayangkan saja
dengan kulit yang hitam legam dia pakai lipstik warna hitam), namun
terlihat pantas dan cantik.
Acara pun dimulai. Ruangan itu jauh lebih besar dibandinga
ruangan-ruangan karaoke yang pernah aku datangi. Mungkin besarnya
sebesar kamar hotel ukuran family room. Sebuah wide screen 50 inci
terpampang di salah satu sudut. Di seberangnya ada sebuah sofa besar
berbentuk setengah lingkaran tempat dimana kami duduk. Di tengah sofa
ada meja yang cukup besar dengan beberapa katalog lagu dan mikrofon di
atasnya.
Acara dimulai dengan memilih lagu Happy Birthday pada mesin pemilih
lagu. Tante Yola membuka kardus yang tadi dibawanya. Ternyata isinya kue
ulang tahun berukuran mini. Tante Rissa dan Tante Shinta membantu
memasang lilin di atasnya. Sedang Tante Lisbeth menyiapkan pemantik api
untuk menyalakan lilin tersebut. Tante Yola juga mengeluarkan beberapa
botol minuman yang dibawanya. Aku tidak tau itu minuman apa tapi
sepertinya yang jelas minuman beralkohol.
Keempat wanita tersebut dan aku mulai menyanyikan lagu Happy Birthday
mengikuti lagu yang dimainkan di layar wide screen. Meski cuma berenam
namun terasa meriah dan aku bisa merasakan kebersamaan mereka sebagai
sahabat Tante Irene. Tante Irene yang berulang tahun terlihat tersenyum
bahagia. Dan ketika lagu selesai wanita itu tak bisa menyembunyikan rasa
harunya. Matanya terlihat menggenang dan beberapa tetes air mulai turun
dari ujung matanya.
"Aduuhh.. thanx banget ya.. Kamu semua tuh emang teman-teman aku yang
paling top deh..", Tante Irene memeluk dan mencium pipi mereka satu
persatu. Begitu juga dengan aku.
"Thanx ya Yo, meskipun belum kenal kamu mau dateng ke sini..
mmuaachh..", Tante Irene mencium pipiku. Aku balas mencium pipinya
seperti dilakukan keempat sahabatnya.
"Sama-sama Tante, aku juga seneng bisa punya teman baru..", jawabku.
"Ayo dong, sekarang tiup lilinnya..", seru Tante Shinta seperti nggak sabar.
Tante Irene tersenyum. Kemudian wanita cantik itu meniup lilin berjumlah
36 buah yang tertancap di atas kue. Kami yang lain pun bertepuk tangan.
Acara berikutnya makan kue ulang tahun sambil berkaraoke. Masing-masing
menyumbang satu lagu untuk Tante Irene. Secara bergiliran kami
bernyanyi. Kadang kala berduet. Sementara yang tidak bernyanyi asyik
menikmati kue ulang tahun dan minuman. Ternyata betul yang dibawa Tante
Yola tadi minuman beralkohol. Aku nggak tau jenis-jenisnya karena aku
memang tidak suka minum. Tante Irene rupanya memperhatikan hal itu.
"Rio kok kamu nggak minum-minum sih dari tadi?" tanyanya seraya merangkul pundakku. Aku tersenyum.
"Nggak Tante, aku nggak suka minum..", jawabku. Tante Irene menunjukkan wajah cemberut yang dibuat manja.
"Kenapa? Gitu ya sama aku..", rajuknya. Aku tertawa.
"Aduh sori Tante, bukannya aku nggak hargain Tante, tapi emang nggak doyan..", jawabku lagi.
"Uuhh.. dasar, ya udah kamu pesen minuman lain gih di luar, tapi ada
hukumannya lho." ujar Tante Irene sambil bergelayut di bahuku.
"Hukumannya apa Tante?" tanyaku penasaran.
"Kamu nyanyi bareng aku ya..", pintanya.
Aku tersenyum sambil mengiyakan. Yang lain pun setuju. Kami pun nyanyi bareng.
Jam sudah menunjukkan jam sembilan lewat. Suasana mulai tidak
terkontrol. Kelima wanita yang mulai mabuk itu mulai bernyanyi-nyanyi
dengan ngaco. Aku sendiri heran melihat mereka yang sejak tadi minum
alkohol seperti minum air mineral saja. Entah sudah berapa botol yang
dihabiskan. Suara mereka yang tadinya cukup bagus mulai fals dan
liriknya pun ngelantur. Yang ada hanya suara tawa dan teriak-teriakan.
Lebih parah lagi mereka mulai memilih lagu-lagu dari katalog berlabel
"Adult". Dan aku baru tahu bahwa di katalog itu semua lagu ditampilkan
dengan videoklip yang full pornografi. Mulai dari tarian-tarian
telanjang sampai adegan persetubuhan. Kebanyakan isinya memang lagu-lagu
disco. Dan kelima wanita itu mulai kehilangan rasa sungkannya, termasuk
Tante Irene yang awalnya terlihat malu-malu. Dengan cueknya mereka
bernyanyi sambil berdiri dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tak jarang
mereka sampai naik ke atas meja sambil menari-nari erotis. Kadang mereka
pun menggodaku dengan memperlihatkan sebagian sex appealnya. Birahiku
pun mulai naik. Namun aku masih belum berani berbuat apa-apa. Aku masih
berpikir bahwa ini hanyalah pesta ulang tahun.
Dugaanku benar. Kegilaan itu berakhir dengan cukup wajar. Mereka mulai
capek, atau lebih tepatnya bosan. tak terasa sudah hampir jam sebelas.
Aku melihat mereka berkemas-kemas. Huh.. akhirnya aku bisa pulang.
Bukannya aku tidak menikmati acara mereka, tapi masalahnya besok adalah
hari kerja. Nggak lucu kan kalau sampai ngantuk di kantor. Namun
dugaanku meleset. Dari tempat karaoke acara berlanjut di rumah Tante
Irene. Aku setengah mati mencari alasan untuk menolak, namun bujukan dan
rayuan kelima wanita itu membuatku tak kuasa menolaknya. Singkat cerita
aku pun "terjebak", dalam Peugeot 207 Tante Lisbeth menuju rumah Tante
Irene di daerah Muara Karang. Aku nggak tau acara apa lagi yang akan
digelar. Paling aku bengong melihat mereka mabuk lagi.
Sampai di rumah Tante Irene, kami langsung diajak ke living room yang
cukup besar. Di living room itu ada satu set home theater yang di temani
bantal-bantal berukuran besar. Kelima wanita yang sudah setengah mabuk
itu dengan enaknya duduk dan tiduran di living room itu.
"Ren, masih pengen goyang nih..", seru Tante Yola.
"Sabar dong Bu, ini juga lagi disiapin..", jawab Tante Irene sambil mempersiapkan sesuatu dengan DVD-nya.
Dan lagi-lagi sajian yang tadi kulihat di tempat karaoke terulang lagi.
Rentetan videoklip dengan aneka adegan seks diiringi musik-musik disco
yang menghentak. Bagai kena sihir kelima wanita yang sudah setengah
mabuk dan kupikir sudah kehabisan tenaga itu kembali "on", dan asyik
bergoyang erotis tak karuan.
Setelah puas bergoyang, mereka kembali tergeletak di lantai berlapis
karpet tebal itu. Tiba-tiba Tante Irene bergegas ke arah dapur. Tak lama
kemudian wanita itu kembali ke living room, lagi-lagi dengan
botol-botol minuman beralkohol. Keempat sahabatnya dengan buas langsung
menyambar botol-botol minuman itu seperti serigala kelaparan. Lagi-lagi
aku geleng-geleng melihat mereka yang minum air-air api itu seperti
minum air putih saja. Lama-lama aku bete juga meski pada awalnya aku
senang karena bisa menikmati tarian erotis mereka.
"Hello ladies.. mau ngapain lagi nih, aku bosen..", seruku tiba-tiba.
"Iya nih.. ngapain ya yang asyik..", timpal Tante Lisbeth.
"Aha.. gue tau, main truth or dare aja yuk..", usul Tante Yola.
Keempat wanita yang lain langsung bersorak ribut tanda setuju. Jantungku
tiba-tiba berdebar. Aku belum pernah main truth or dare sebelumnya.
"Oke.. oke.. bentar ya..", seru Tante Irene sambil berjalan ke arah kamarnya.
Tak lama wanita cantik itu keluar dengan membawa satu Pak kartu remi.
Dengan jujur aku bilang pada mereka bahwa aku belum pernah main truth or
dare. Mereka tertawa terbahak-bahak seolah mencibir aku.
"Sini Yo, aku ajarin..", kata Tante Yola.
Ke bagian 2